Diagnosis dan Stadium Pada Kanker Ovarium

9-20120630092331b9 

Gejala Kanker Ovarium

  Kanker ovarium jarang menimbulkan gejala pada stadium awal. Kalaupun ada, gejala-gejalanya menyerupai konstipasi atau gejala pada iritasi usus. Oleh sebab itu, kanker ovarium biasanya baru terdeteksi ketika kanker sudah menyebar dalam tubuh.

  Beberapa gejala yang umumnya dialami oleh penderita kanker ovarium adalah:

  1.   Perut selalu terasa kembung.
  2.   Pembengkakan pada perut.
  3.   Sakit perut.
  4.   Penurunan berat badan.
  5.   Cepat kenyang.
  6.   Mual.
  7.   Perubahan pada kebiasaan buang air besar, misalnya konstipasi (sulit buang air besar).
  8.   Frekuensi buang air kecil yang meningkat.
  9.   Sakit saat berhubungan seksual.

  Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Ovarium

  Sama seperti kanker pada umumnya, penyebab kanker ovarium juga belum diketahui secara pasti. Ada beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko seorang wanita untuk terkena kanker ini. Faktor-faktor tersebut meliputi:

  Faktor Usia. Kanker ovarium cenderung terjadi pada wanita berusia 50 tahun ke atas.

  Genetik. Risiko untuk terkena kanker ovarium akan meningkat jika memiliki anggota keluarga yang mengidap kanker ovarium atau kanker payudara. Begitu juga pada wanita yang memiliki gen BRCA1 dan BRCA2, yang merupakan mutasi genetic yang dapat diturunkan.

  Terapi pengganti hormon estrogen (Esterogen Hormone Replacement Therapy), terutama bila dilakukan dalam jangka waktu lama dan dengan dosis tinggi. Menderita sindrom ovarium polikistik (PCOS),Tidak pernah hamil,Mengalami kelebihan berat badan atau obesitas,Mengalami siklus menstruasi sebelum usia 12 tahun dan menopause setelah usia 50 tahun,Menjalani terapi kesuburan,Merokok,Menggunakan alat kontrasepsi IUD.

中西医治疗

  Diagnosis Kanker Ovarium

  Diagnosis awal dibuat berdasarkan gejala yang dialami, riwayat kesehatan keluarga, dan hasil pemeriksaan fisik. Kemudian pemeriksaan penunjang dilakukan untuk menegakkan diagnosa, meliputi USG, pemeriksaan darah, atau biopsi.

  Pemeriksaan ultrasonografi (USG) yang dilakukan untuk memeriksa perut bagian bawah serta organ reproduksi. Pada pemeriksaan ini dapat diketahui bentuk, ukuran, dan struktur ovarium.

  Pemeriksaan darah yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan protein CA 125 dalam darah. Kadar CA 125 yang tinggi bisa mengindikasikan kanker ovarium. Tetapi tes ini tidak bisa dijadikan patokan tunggal karena CA 125 bukan tes yang spesifik, kadarnya bisa meningkat pada kondisi lain yang bukan kanker, dan tidak semua penderita kanker ovarium mengalami peningkatan kadar CA 125 dalam darah.

  Stadium Kanker Ovarium

  Jika hasil pemeriksaan menunjukkan seseorang positif menderita kanker ovarium, langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah menentukan tingkat penyebaran kanker. Dalam menentukan tingkat penyebaran kanker ovarium, pemeriksaan bisa dilakukan dengan CT atau MRI scan, rontgen dada, serta pemeriksaan sampel cairan rongga perut dan jaringan ovarium.

  Mengetahui tingkat penyebaran kanker yang diderita akan membantu dokter untuk menentukan langkah pengobatan terbaik.

  Secara umum, tingkat penyebaran kanker ovarium terbagi ke dalam empat stadium, yaitu:

  Stadium 1: Kanker hanya menyerang salah satu atau kedua ovarium, tapi belum menyebar ke organ lain.

  Stadium 2: Kanker sudah menyebar dari ovarium ke jaringan di sekitar panggul atau rahim.

  Stadium 3: Kanker sudah menyebar ke selaput perut, permukaan usus, dan kelenjar getah bening di panggul atau perut.

  Stadium 4: Kanker sudah menyebar hingga bagian lain tubuh, misalnya ginjal, hati, dan paru-paru.

4

St.Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou menerapkan gabungan pengobatan Barat dan Timur melawan kanker dan membunuh kanker, memaksimalkan keunggulan masing-masing terapi untuk saling melengkapi, khasiat pengobatan gabungan Timur dengan tradisional herbal china dan Pengobatan Medis Barat . Efektifitas pengobatan lebih besar dibandingkan pengobatan tunggal saja. Terapi Minimal Invasif merupakan teknologi yang stabil, tepat dan terarah untuk membunuh kanker, juga menghambat kerusakan pada tubuh yang timbul karena pengobatan konventional, dalam waktu yang bersamaan, menjaga keseimbangan imun tubuh secara menyeluruh dan membantu membunuh kanker, meningkatkan kekebalan tubuh, menguatkan fisik. Gabunga Keistimewaan gabungan pengobatan Timur dan Barat dengan Terapi Minimal Invasif untuk menangani kanker dengan menerapkan sistem pengobatan yang modern, mendapatkan hasil yang lebih maksimal, efek samping yang lebih kecil,mencapai efektif hasil pengobatan paling maksimal.

Pengobatan Kanker Serviks dengan metode Minimal Invasif di St.Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou

  1. Intervensi : Luka Sayatan 1-2mm, Akurat Melawan Kanker .Terapi Intervensi dilakukan di bawah panduan alat DSA, hanya membutuhkan luka bedah 1-2mm, kemudian dilakukan tusukan dan pemasukkan kateter khusus, alat pemandu dan alat canggih lainnya langsung ke dalam tubuh. Kemudian dokter akan memasukkan obat anti kanker ke dalam tumor untuk membunuh sel-sel kanker dan menyumbat pembuluh darah pemasok nutrisi ke kanker. Dengan terputusnya pasokan nutrisi ke kanker, hal ini membuat kanker “mati kelaparan”. Selain dapat memutuskan pasokan darah ke kanker, obat emboli yang dicampur dengan obat kemo juga berperan sebagai kemoterapi lokal, sehingga tidak ada efek samping seperti yang terjadi pada kemoterapi sistemik.   Kelebihan Intervensi : memiliki kemampuan untuk “membunuh dan membuat tumor mati kelaparan”, efeknya signifikan; obat terpusat di lokal lesi, minim efek toksisitas, minim komplikasi; trauma ringan, minim luka dan pemulihan cepat.

  2. Microwave Ablation (MWA) : Membuat Sel Kanker “Mati Kepanasan”, Luka Hanya Sebesar Ujung Jarum   Kelebihan Microwave Ablation (MWA) : efisiensi termal yang tinggi, proses tindakan lebih singkat, dalam waktu 10 menit dapat mengablasi tumor yang berdiameter hingga 6cm, mengurangi risiko dan penderitaan pasien saat proses tindakan; luka sebesar ukuran ujung jarum kurang lebih 3mm, menghindari luka “vitalitas” tubuh akibat operasi besar; indikasi luas. Pada kasus kanker serviks yang tidak dapat menjalani operasi, gagal menjalani embolisasi , Microwave Ablation (MWA) bisa menjadi opsi pengobatan yang efektif.

  3. Imunoterapi : Meningkatkan Kekebalan Tubuh, Memperpanjang Tingkat Kelangsungan Hidup   

Imunoterapi tidak hanya dapat membunuh sel kanker, tetapi juga membersihkan sisa lesi pada tubuh, serta mencegah terjadinya kekambuhan dan penyebaran. Bagi pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah, metode ini dapat meningkatkan dan memperbaharui sistem kekebalan tubuh, sehingga menghambat pertumbuhan sel kanker. Karena sel imun berasal dari tubuh pasien sendiri, sehingga tidak akan menimbulkan reaksi penolakan.

  Kelebihan Imunoterapi : meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta menghindari adanya serangan virus dan bakteri dari luar; efektif menurunkan peluang kekambuhan dan penyebaran, aman

  Tim Medis Multidisiplin (MDT – Multidisciplinary Team) di St.Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou   Tim Multidisiplin, Memberikan Pelayanan Medis Yang Komprehensif Untuk Pasien Kanker Serviks

  St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou telah membentuk tim medis multidisiplin(Ahli Onkologi,Ahli Surgery,Ahli Osteologi,Ahli Saraf,Ahli Spikologi,Ahli Gizi, dll) diskusi medis lebih dari satu dokter onkologi,efisiensi bagi pasien karena menghemat waktu untuk mencari kebeberapa Rumah sakit untuk bertemu dengan beberapa dokter Spesialis , Tim MDT menggabungkan para ahli dari berbeda bidang yang akan bersama-sama memberikan layanan konsultasi kepada pasien, saling melengkapi kekurangan di masing-masing bidang dan memberikan diagnosis yang lebih komprehensif, akurat dan ilmiah, agar dapat mengembangkan rencana pengobatan yang tepat pada pasien, melakukan pengontrolan hasil pengobatan , sehingga dapat meningkatkan efektifitas pengobatan pasien.